Created by :

Pandji Kiansantang
Since 8 August 2011

Website :
PandjiKiansantang.Com

Email :
pkiansantang@gmail.com

Twitter :
@inspirasipanji

Other Websites :

 

>> PandjiKiansantang.com <<
Website Tulisan Inspirasi
Pandji Kiansantang

 

Qirsa.com
Dakwah Online "Qalbu Islami
Karyawan Summarecon"

>> CCSR.cc <<
Kreasi Tim Corporate Culture
dan Corporate Social
Responsibility

>> WonderfulClub.info <<
Wadah Klub-klub Hoby
Karyawan Summarecon


>> SinergiSejarah.Com <<
Media Komunikasi
"Sejarah yang Mensejahterakan"


>> Proklamasi1945.com <<
Segala hal tentang Proklamasi
Kemerdekaan dan Revolusi
Indonesia 1945-1950

>> Pandji.info <<
Media Komunikasi Keluarga
Besar Pandjiwinata

Statistik Pengunjung

Proklamasi 1945 | Segala hal tentang Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Indonesia 1945-1950
30 TAHUN INDONESIA MERDEKA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 29 July 2011 02:22

30 TAHUN INDONESIA

MERDEKA

Sumber : ” 30 Tahun Indonesia Merdeka ” ,Ginandjar Kartasasmita, A. Prabowo, Bambang Kesowo, ... et al.). Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1997.

17 AGUSTUS 1945

PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Setelah sekian lamanya berada di dalam belenggu penjajahan, pada tanggal 17 Agustus 1945 rakyat Indonesia dengan PROKLAMASI menyatakan dirinya bangsa yang merdeka. Proklamasi kemerdekaan Indonesia itu dilakukan oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia dengan penuh tekad dan keyakinan, dilandasi dan dijiwai oleh suatu cita-cita luhur, sebagaimana dirumuskan di dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 :

“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia yang merdeka, bersatu, adil dan makmur.

Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 itu, sebelumnya didahului pembahasan rancangan Dasar Negara dan Hukum Dasar Negara oleh 68 orang anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI, Dokuritsu Zyunbi Cosakai) yang bersidang antara tanggal 28 Mei-1 Juni 1945 dan antara tanggal 10-17 Juli 1945. Para anggota BPUPKI ini diangkat dari tokoh-tokoh yang berdiam dalam daerah kekuasaan Tentara XVI Jawa-Madura. Dalam sidang pertama yang membahas dasar negara antara tanggal 28 Mei-1 Juni 1945 masih timbul perbedaan pendapat antara apa yang kemudian disebut sebagai “golongan Islam” dan “golongan kebangsaan”. Perbedaan itu memerlukan penyelesaian secara mendasar. Oleh karena itu, walaupun sesungguhnya antara tanggal 2 Juni-9 Juli 1945, BPUPKI secara resmi sedang dalam masa reses, namun 38 orang anggota BPUPKI yang berada di Jakarta melanjutkan sidang-sidangnya dan kemudian berhasil merumuskan rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar, dan dilaporkan secara resmi kepada sidang BPUPKI berikutnya. Rancangan Pembukaan—yang kemudian disebut sebagai “Piagam Jakarta”—selanjutnya dibahas bersama dengan pasal-pasal Batang Tubuh Undang-Undang Dasar.

Last Updated on Friday, 29 July 2011 02:33
Read more...
 
DETIK-DETIK PROKLAMASI (Saat-saat Menegangkan Menjelang Kemerdekaan Republik) PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 21 July 2011 03:54

KAMI INGIN SEGERA MERDEKA

Pertentangan antara golongan tua dan muda terjadi jauh sebelum mendekati proklamasi yaitu saat Soekarno menjabat sebagai ketua Jawa Hookokai. Bertempat di gedung Hookokai depan Lapangan Banteng tanggal 8 Juni 1945 Soekarno didatangi para pemuda yang ingin menyampaikan aspirasinya. Ketika itu masa-masa sidang kedua BPUPKI dan tuntutan para pemuda adalah agar kemerdekaan benar-benar diperjuangkan dan segera diproklamasikan. Menurut para pemuda kemerdekaan Indonesia tidak perlu menunggu perintah dari Jepang.

Para pemuda pemberani dan revolusioner tersebut adalah anggota Gerakan Angkatan Baru yang diketuai oleh BM. Diah. Mereka berusaha menjelaskan kepada Soekarno bahwa mereka mengikuti setiap berita yang dilaporkan melalui radio-radio luar negeri. Berdasarkan berita yang mereka dengar, dikabarkan bahwa kekuatan Jepang di perang telah terdesak oleh sekutu. Diperkirakan tidak lama lagi Jepang akan lumpuh. Namun pernyataan dan berita menggembirakan itu tidak dapat meyakinkan Soekarno, karena Soekarno tetap bersihkukuh pada keputusan panitia untuk melanjutkan sidang BPUPKI.

Mendengar penolakan Soekarno, para pemuda dari Gerakan Angkatan Baru menjadi semakin kecewa setelah sebelumnya juga meminta dukungan Hatta namun ditolak. Penolakan tersebut mereka anggap bahwa Soekarno dan Hatta bukan pejuang revolusioner. Namun para pemuda tidak menyerah begitu saja, mereka terus-menerus mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Sampai kemudian para pemuda berada pada titik kulminasi kekecewaan terhadap para golongan tua, sehingga mencetuskan pengungsian Soekarno Hatta ke luar kota Jakarta yang kemudian dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok.

Angkatan Baru : Pelopor Gerakan Pemuda
Gerakan Angkatan Baru adalah letusan keinginan mewakili golongan pemuda yang tidak puas dengan kerja para tokoh nasionalis. Menurut mereka tokoh nasionalis yang mewakili golongan tua bersikap ragu-ragu dan lamban dalam mewujudkan kemerdekaan. Bagi mereka hal itu disebabkan oleh keterikatan para golongan tua pada masa silam dan umumnya mereka adalah golongan priyayi yang feodal. Angkatan baru mempunyai pandangan yang radikal, bagi mereka merdeka atau mati. Golongan ini menolak keras kerjasama dengan penjajah baik Belanda atau Jepang yang nantinya hanya akan menjadikan Indonesia sebagai Negara Boneka milik para penjajah. Keinginan Gerakan Angkatan Baru sudah jelas yaitu “Indonesia merdeka sekarang juga, atas kekuatan tenaga nasional bangsa Indonesia”.

Read more...
 
ORANG-ORANG CHINA YANG MEMPENGARUHI KEMERDEKAAN INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Wednesday, 20 July 2011 04:39

KATA PENGANTAR

Cina Indonesia telah aktif mendukung pergerakan kemerdekaan selama 1940-an pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Cina yang pro-kemerdekaan yang terkemuka seperti Siauw Glok Tjhan dan Liem Koen Hian dan Yap Tjwan Bing anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sekalipun buku ini bukan buku popular ilmiah tidak akan selengkap buku kajian sejarah namun diharapkan buku ini dapat menambah wacana dan wawasan bagi para generasi muda Cina di Indonesia.



PENDAHULUAN

Perlakuan deskriminatif selama bertahun-tahun telah membuat orang-orang Tionghoa “tidak tahu” lingkungan sekitar. Dalam beberapa hal mereka merasa tertinggal. Orang-orang Tionghoa yang sadar akan kekurangan itu akhirnya banyak berkumpul dan mendirikan perkumpulan. Tiong Hoa Hwee Koan, Chung Hwa Hwee, Siang Hwee merupakan sedikit nama dari organisasi-organisasi Tionghoa itu. Pada masa ini kesadaran akan eksistensi mereka mulai tumbuh. Mereka banyak aktif di berbagai bidang, termasuk bidang sosial-bidang yang selama ini dianggap “jauh” dari mereka.
Pengaruh revolusi Dr Sun Yat Sen juga turut menumbuhkan rasa nasionalisme orang-orang Tionghoa di Hindia Belanda. Loyalitas mereka kepada pemerintah Hindia Belanda menyurut. Hal ini terbukti dengan adanya aksi boikot para pedagang Tionghoa Surabaya kepada perusahaan dagang Belanda tahun 1902 dan insiden pengibaran bendera nasionalis Tiongkok para Imlek 1912.
Seorang penulis peranakan, Kwee Tek Hoai, pernah membagi warga Tionghoa menjadi tiga kelompok besar. Pertama, Sin Po, kelompok yang berorientasi ke Tiongkok dan menganjurkan Hoa Kiao memertahankan identitas sebagai warga Tiongkok dan menolak menjadi Nederlands Onderdean, Kawula negara Belanda.
Kedua, Chung Hua Hwee (CHH), didirikan 8 April 1928. Secara politik, CHH berorientasi kepada pemerintahan Belanda dengan pemikiran menjadi Nederlands Onderdean adalah satu kenyataan. Ketiga, Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang didirikan pada 25 September 1932 oleh Liem Koen Hian, Ong Liang Kok. PTI berorientasi kepada gerakan nasionalisme Indonesia.
Masa kolonialisme Belanda telah mengangkat peran para peranakan-terutama orang Tionghoa yang “telah lepas” dari budaya asal. Namun peran warga keturunan tak lagi dominan saat Jepang datang. Pada periode Jepang (1942-1945), giliran orang-orang Tionghoa totok yang memegang peranan. Menurut Eddie Lembong, mantan ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) hal itu terjadi lantaran hanya orang totoklah yang bisa membaca huruf kanji. Jepang butuh mereka yang mengerti bahasa Kanji. Perankan tersisih dari pentas dan pendulum pun kembali bergeser.
Ketika Jepang hengkang dan proklamsi kemerdekaan dibacakan Bung Karno, kesadaran masyarakat akan kemerdekaan terus menguat. Saat bersamaan banyak juga orang Tionghoa yang menaruh simpati. Mereka ikut berjuang langsung di medan pertempuran untuk memertahankan kemerdekaan Indonesia.
Meskipun begitu, sentimen anti-Tionghoa belum benar-benar hilang. Bahkan Bung Tomo pun, tokoh pertempuran Surabaya yang baru-baru ini diangkat sebagai pahlawan nasional, pernah menyebarkan nada resialis dalam pidatonya. Go Gien Tjwan, pemimpin Angkatan Muda Tionghoa di Malang yang waktu itu di tunjuk sebagai juru bicara pun memerlukan diri untuk menjawab pidato itu. “musuh rakyat Indonesia bukan etnis Tionghoa melainkan Belanda, “ kata Gien Tjwan sebagaimana dikutip dari buku Benny G Setiono, Tionghoa Dalam Pusaran Politik.
Kalangan Tionghoa saat itu memang tidak memiliki satu orientasi politik sebagaimana yang terjadi pada zaman kolonial, sebagian dari mereka ada juga yang memihak Belanda atau sekutu. Pao An Tui, barisan aman orang Tionghoa semasa revolusi fisik, banyak mendukung NICA saat Pertempuran 10 Nopember berlangsung. Ini sebagaimana kesaksian dari Soemarsono-pemimpin pemuda Republik-dalam buku Negara Madiun.
Oraganisasi dalam Pao An Tui begitu rapi sehingga organisasi ini dikenal kejam, sangar dan tergolong milisi paling kuat di Indonesia berdasarkan penelusuran sejarawan muda Universitas Negeri Medan Nasrul Hamdani dalam salah satu karyanya “Pao An Tui Medan 1946-1948”.
Cepatnya perubahan yang terjadi paska-Indonesia merdeka turut berpengaruh terhadap eksistensi etnis Tionghoa. Beragamnya asal daerah, ideologi, orientasi, politik, dan lain sebagainya membuat tidak ada kesatuan yang benar-benar padu diantara mereka. Periode yang memadai eksistensi etnis Tionghoa.
Terlepas dari pro-kontra yang ada, mengenai peran ekonominya, etnis Tionghoa tetap menjadi pemain utama dan “dibutuhkan” siapapun. Cengkraman mereka sudah tidak diragukan lagi kekuatannya. Pemerintah melalui Kabinet Ali Sastroamidjojo mencoba menjinakan etnis itu dengan membatasi perdagangan mereka dan ternyata tidak berhasil. Yang terjadi malahan kong kalingkong antara pejabat dan pedagang etnis Tionghoa yang sempat mempopulerkan istilah “alibaba”. Nasution yang ketika berkuasa melalui SOB-Staten van Oorlog en Beleg, keadaan darurat perang- mencoba mengeluarkan aturan pembatasan peran ekonomi etnis Tionghoa dengan melarang mereka berdagang hingga kewilayah pedesaan dan hasilnya tetap saja tidak berhasil.

Last Updated on Wednesday, 20 July 2011 04:48
Read more...
 
SEJARAH NASIONAL INDONESIA VI PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 21 July 2011 03:49

PERANG KEMERDEKAAN

A. Proklamasi, Undang-undang Dasar '45 dan Pancasila Dasar Filsafat Negara

1.    Proklamasi Kemerdekaan
Pada pukul 05.00 (waktu Jawa pada jaman Jepang) fajar 17 Agustus 1945, para pemimpin Indonesia dan para pemimpin pemuda keluar dari ruangan rumah Laksamana Maeda dengan diliputi oleh kebanggaan. Mereka pulang ke rumah masing-masing setelah berhasil merumuskan Proklamasi bagi kemerdekaan Indonesia. Mereka telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan di rumah Ir. Sukarno di Jalan Pengangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi, Gedung Perintis Kemerdekaan), pada pukul 10.30 (waktu Jawa pada Jaman Jepang) atau pukul 10.00 WIB sekarang. Sebelumnya pulang Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang berkerja pada pers dan kantor berita terutama B.M. Diah untuk memperbanyak teks Proklamasi dan menyiarkannya ke seluruh dunia.

Sementara itu para pemuda tidak langsung menuju ke rumah masing-masing, mereka melakukan kegiatan-kegiatan membagi pekerjaan dalam kelompok-kelompok untuk penyelenggaraan pembacaan naskah Proklamasi. Kegiatan mereka dibagi-bagi. Masing-masing kelompok pemuda mengirimkan kurir untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwa saat  Proklamasi telah tiba.

Diantara mereka adalah para pemuda yang bermarkas di Jalan Bogor Lama (Sekarang Jalan Dr. Sahardjo SH) dari kelompok Sukarni. Malam itu mereka melakukan rapat rahasia di Kepu (Kemayoran), kemudian pindah ke Defensielijn van den Bosch (sekarang Jalan Bungur Besar) untuk mengatur pelaksanaan dan cara penyiaran berita Proklamasi. Semua alat komunikasi yang ada akan dipergunakan untuk maksud itu. Pamflet, pengeras suara, mobil-mobil akan dikerahkan ke segenap penjuru kota. Diusahakan juga pengerahan massa untuk mendengarkan pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur.

Ribuan pamflet berhasil dicetak dengan roneo pada malam itu juga, dan segera juga disebarkan ke pelbagai penjuru kota. Di dalam situasi yang menengangkan itu para pemuda memasang pamflet-pamflet di tempat-tempat yang mudah dilihat oleh publik. Juga secara beranting berita itu disampaikan ke luar kota Jakarta.

Tanpa diduga oleh siapa pun pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, barisan pemuda datang berbondong-bondong menuju ke Lapangan Ikada di sudut tenggara Lapangan Monumen Nasional (monas) yang sekarang. Rupanya pihak Jepang telah mencium kegiatan para pemuda pada malam itu, karena itu mereka berusaha untuk menghalang-halanginya. Lapangan Ikada telah dijaga oleh pasukan-pasukan Jepang yang bersenjata lengkap. Para pemuda datang ketempat itu karena informasi dari kawan-kawannya yang disampaikan secara beranting dari mulut ke mulut bahwa Proklamasi akan diucapkan di Lapangan Ikada. Ternyata Proklamasi tidak diadakan di Lapangan Ikada, melainkan di Pegangsaan Timur 56. Pemimpin Barisan Pelopor Sudiro juga pergi ke Lapangan Ikada dan melihat pasukan-pasukan Jepang menjaga Lapangan itu. Ia segera kembali dan melaporkan hal itu kepada dr. Muwardi, Kepala Keamanan Ir. Sukarno pada waktu itu. Ia mendapatkan penjelasan bahwa Proklamasi tidak diadakan di Ikada melainkan di Pegangsaan Timur 56. Ia segera kembali ke Ikada untuk memberitahukan hal itu kepada anak buahnya.

Read more...
 
PUISI-PUISI REVOLUSI BUNG KARNO PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 09 August 2010 02:38

Maman S. Tegeg, (Jakarta: Gema Patriot, 2002), xi + 127


KEMERDEKAAN I

Kemerdekaan untuk merdeka
Kemerdekaan berarti mengakhiri
untuk selama-lamanya
penghisapan bangsa oleh bangsa
Penghisapan-penghisapan yang tak langsung
Maupun penghisapan yang langsung
-oo0oo-


KEMERDEKAAN II

Kemerdekaan
Kemerdekaan yang nyata berarti
KEBEBASAN untuk merdeka
ini berarti : kebebasan untuk menentukan
politik nasional kita sendiri
untuk merumuskan konsepsi-konsepsi
nasional kita sendiri
tanpa dirintangi atau tanpa dihalangi
oleh tekanan-tekanan atau campur tangan di luar
Suatu kebebasan untuk
menyelenggarakan urusan-urusan
politik, ekonomi dan sosial kita
sejalan dengan konsepsi-konsepsi
nasional kita sendiri
-oo0oo-



KEMERDEKAAN III

Jikalau kita membaca
seorang pemimpin Irlandia lain
Erskin Chiders berkata:
“Kemerdekaa bukan soal tawar-menawar
Kemerdekaan sebagai maut,
dia ada atau tidak ada
kalau orang menguranginya
maka itu bukan lemerdekaan lagi”
-oo0oo-

 

Last Updated on Thursday, 28 July 2011 08:09
Read more...
 
« StartPrev12NextEnd »

Page 1 of 2

Latest News

Popular


Powered by Joomla!. Designed by: gallery2 hosting reseller vps Valid XHTML and CSS.